Sabtu, 22 Mei 2010

Cara Membuat Soto Betawi

SOTO Betawi memang sangat terasa lezat di lidah dan mengenyangkan perut. Ternyata membuatnya mudah saja. Inilah caranya.

bahan-bahan:
- 500 gram jeroan sapi
- 150 gram daging sapi

- 5 buah Perkedel kentang

- 1 gelas santan kental

- 1 sendok makan bawang goreng

- 1 sebdok makan Kecap manis

- 1 buah jeruk nipis

- 50 gram emping goreng

- irisan daun seledri secukupnya

- 2 lembar daun jeruk purut

- 2 lembar daun salam

- 1 batang serai, lalu memarkan

- 1/2 jari lengkuas

- bumbu penyedap secukupnya

- 7 siung bawang merah

- 3 siung bawang putih

- 1/2 jahe

- garam dan gula secukupnya

Cara membuat:

- Bersihkan jerohan sapi, rebus dengan sedikit garam sampai setengah empuk

- Tambahkan daging, rebus terus hingga daging dan jerohan benar-benar empuk

- Pisahkan daging dan jeroan dari air kaldunya

- Potong daging dan jeroan tipis-tipis, goreng hingga setengah kering, lalu tiriskan

- Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis sampai harum

- Tambahkan air kaldu rebusan, masak hingga airnya tinggal 1 liter

- Setelah mendidih, masukkan daun salam, serai, lengkuas dan daun jeruk purut

- Tambahkan santan, kemudian didihkan kembali, tambahkan bumbu penyedap, kemudian angkat

- Taruh daging dan jeroan dalam mangkok, beri kuah secukupnya

- Taburi bawang goreng, kecap manis, irisan seledri dan air jeruk nipis

Sajikan bersama nasi, perkedel, emping dan sambal soto. Selamat mencoba

Sumber : www.inilah.com – Soto Betawi

Cape Town – South Africa

SIMON’S TOWN

Tanpa mengisi perut, saya hanya sempat menaruh koper sebentar di hotel, dan karena hari masih pagi, pemandu jalan langsung meminta saya untuk segera turun dan kembali ke mobil… Dia bilang, hari ini cuaca sedang cerah… jangan sia-siakan… kita harus segera berangkat.. Mulanya saya bingung… tapi setelah dijelaskan, di Cape Town apabila sedang berada di musim dingin, makan seringkali cuaca berubah-ubah dalam jangka waktu hanya satu hari saja… waaah kalau demikian, kami harus bergegas berangkat.

Perjalanan diawali dengan menyusuri sisi pantai menuju ke arah selatan… menuju daerah di Dido Valley Road, yang bernama Simon’s town.

Pemandangan menuju kesana sangat indah… jalanan kami berada di atas bukit yang banyak pepohonan dan bersiiih sekali, sedangkan ke bawah kami dapat melihat laut… aduuh indah sekali.

Tujuan kami adalah toko / pabrik gemstone.. batu-batu sedimen yang berasal dari tanah Afrika yang sudah berumur ratusan tahun… Nama tokonya Scracth Patch & Mineral World.Rasanya senaaaang sekali bisa menjumpai tempat yang seperti ini.

Begitu sampai, yang kami lakukan adalah membuka mata lebar-lebaaaaar… Bagaimana tidak? Hamparan batu-batu
berwarna-warni terserak begitu saja di atas tanah… yang merupakan jalan masuk ke toko…. bukan main… banyaaaaaak sekali….
Pikiran langsung terbayang wajah-wajah teman, saudara-saudara di tanah air… Pasti mereka senang sekali jika dibawakan oleh-oleh seperti ini dari Afrika Selatan.

Mata saya mulai menelusuri isi toko batu itu,.. menyapu pandangan ke seluruh sudut toko… Masya Allah… semuanya sungguh indah… Ada yang sudah berupa gelang, anting, kalung, adapula yang berupa batu setengah mentah… Waah… gimana nih cara membawanya pulang ke Indonesia? haha

Ternyata batu yang khas dari South Africa adalah batu yang diberi nama “tiger’s eye”… ciri batu ini berwarna coklat keemasan, disertai loreng-loreng hitam… cantiiik sekali dan agak mahal harganya dibanding batu-batu yang lain.

Disini kita juga bisa membeli batu berdasarkan kaleng. Jadi mereka menyediakan 2 ukuran kaleng.. kecil dan besar. Nah, kita tinggal memasukan (menyerok) batu-batu campur yang tersedia di dalam drum kayu yang besar…. boleh dipilih-pilih. Ada Tiger’s Eye, Rose Quartz, Lime Quartz, Amethyst, Jasper, Agates dan Crystals. Jika kita ingin langsung merakit batu-batu itu menjadi cincin, maka di toko dijual rangka cincin, sehingga kita tinggal menempel batu di atasnya… sangat praktis..

Tidak terasa kami menghabiskan waktu hampir 5 (LIMA) JAM! hanya di toko itu… hahaha…belum pernah si pemandu jalan kedatangan tamu seperti kami. Dia sudah berkali-kali mengingatkan kami bahwa masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi, takut hari keburu sore. Hmm… Banyak sekali yang saya beli, harga juga sangat terjangkau… setiap barang dikemas dalam kemasan yang cantik, siap untuk dijadikan hadiah atau oleh-oleh. Dengan senyum penuh kemenangan, kami membawa belanjaan batu ke mobil, siap untuk tujuan wisata berikutnya.

Sumber : www.sotobetawi.com

Kamis, 20 Mei 2010

Mesin Penetas Telur Tipe C-200

Mesin Penetas Telur Tipe C-200

Mesin penetas telur sistem rak putar adalah generasi terbaru alat penetas telur kapasitas kecil yang bertujuan untuk mengoptimalkan efesiensi penetasan dengan teknik yang jauh lebih praktis dan mudah. Mesin penetas telur ini dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efesiensi penetasan tinggi, kemudahan pengoperasian, model yang artistik dan sangat ringan. Namun dapat diperoleh dengan harga yang sangat murah.

Dengan ukuran yang bervariasi sehingga mesin ini sangat cocok untuk sarana penunjang praktikum, penelitian, pengaplikasikan teknologi tepat guna, dan cocok juga bagi yang ingin memulai usaha peternakan mandiri.

Spesifikasi Tipe C-200 :

  • Kapasitas : maks 224 butir (posisi berdiri)
  • Ukuran : 90×40x32 cm
  • Daya listrik : 40 watt 220V
  • Gratis buku manual penggunaan mesin penetas
  • Bahan multipleks dan MDF (Medium density fiberboard)

Keunggulan Mesin:

  • Menggunakan sistem rak putar. pemutaran semua telur hanya dengan sekali operasi, tanpa membalik dengan tangan satu per satu.
  • Rak telur desain beru terbuat dari bahan full alumunium, dengan ram profil U sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat serta lebih higienis.
  • Efesiensi penetasan tinggi, 80-90 %, dengan potensi mencapai 100%.
  • Pemanasan darurat menggunakan plat pemanas, cukup memakai lampu minyak atau lilin.
  • Kontrol panas otomatis dengan thermostat yang dapat disetel dari luar mesin, dengan fluiktuasi suhu hanya 1oF. sangat akurat dang praktis.
  • Dapat digunakan untuk berbagai jenis dan ukuran telur, dari telur bebek, ayam sampai telur puyuh, burung dara, perkutut, walet dan lain-lain.
  • Desain lebih artistik dan indah.
  1. Tuliskan jenis mesin, spesifikasinya pada form yang tersedia dibawah dengan memasukan alamat email yang valid karena kami akan meresponnya melalui email.
  2. Anda juga bisa melakukan pemesanan melalui telepon, email atau fax berikut :

    Online Support :
    » Chatting :
    » Email : support@anekamesin.com

    Call Support :
    » Phone : (0274) 6945 660
    » Phone : (0274) 4360 789
    » Telkomsel : 081-22-77-999-12
    » Indosat : 08574-33-666-88
    » XL : 0878-91-20-20-10

    Fax : (0274) 4360 789

  3. Belum menemukan produk yang Anda cari? Silahkan Rancang Sendiri produk yang sesuai kebutuhan Anda dan jika memang mampu, AnekaMesin.Com siap membantu untuk mewujudkannya.

sumber :
http://anekamesin.com/produk-mesin/mesin-peternakan-perikanan/mesin-penetas-telur-tipe-c-200.html

Selasa, 11 Mei 2010

cowboy paradise

Film Cowboy In Paradise Heboh. Film dokumenter yang disutradarai oleh Amit Virmani dengan mengambil tema tentang gigolo atau laki-laki penghibur perempuan di Pantai Kuta, Bali akhirnya menuai banyak protes dari berbagai kalangan masyarakat Bali. Menurut mereka Film yang berjudul Cowboy In Paradise ini dinilai tak menyampaikan fakta sebenarnya di lapangan meskipun fenomena gigolo diakui memang ada di Kuta. Selain itu pula, film Cowboy In Paradise ini juga dianggap menyimpang karena menyebut Kuta sebagai surga wisata seks bagi ribuan turis wanita.

Saat ini Cuplikan film Cowboy In Paradise tersebut dapat dengan mudah disaksikan di situs pengunduh video Youtube. Film dibuka dengan salam perkenalan dari seorang pria dewasa yang mengaku berprofesi sebagai gigolo di Kuta. Selain itu, pria berambut panjang serta berkacamata ini juga menawarkan jasanya untuk menemani seorang turis wanita asing selama berlibur di Kuta, Bali.

Dalam cuplikan film lainnya, pengguna internet juga bisa menyaksikan aneka aktivitas lelaki dewasa dan turis asing wanita di Pantai Kuta. Cuplikan juga menampilkan potongan beberapa wawancara yang mengupas dunia gigolo di kawasan Pantai Kuta.

Protes juga disampaikan Made Juliadi, seorang pedagang minuman di Pantai Kuta. Menurutnya, Kuta terkenal karena sunset, pasir putih, ombak, dan budayanya. Oleh karena itu ia menyatakan tidak setuju atas cerita di film tersebut. “Tidak semua turis datang ke Kuta untuk mencari seks,” katanya.

Kematian Menurut Islam

Sebelum membicarakan wawasan Al-Quran tentang kematian, terlebih dahulu perlu digarisbawahi bahwa kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi sekali, tetapi dua kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan sekaligus membenarkan ucapan orang-orang kafir di hari kemudian:

“Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami menyadari dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk keluar (dari siksa neraka)?”

Kematian oleh sementara ulama didefinisikan sebagai “ketiadaan hidup,” atau “antonim dari hidup.” Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang fana ini.

Kehidupan pertama dialami oleh manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedang kehidupan kedua saat ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat.

Al-Quran berbicara tentang kematian dalam banyak ayat, sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara tentang berbagai aspek kematian dan kehidupan sesudah kematian kedua.

KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN

Secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran pun melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil merayu Adam dan Hawa melalui “pintu” keinginan untuk hidup kekal selama-lamanya.

“Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha [20]: 120). Demikian Iblis Merayu Adam.

Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.

Dari sini lahir pandangan-pandangan optimistis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan, bahkan dari kalangan para pemikir sekalipun.

Manusia, melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai sebagai salah satu gaib nisbi yang paling besar. Walaupun pada hakikatnya kematian merupakan sesuatu yang tidak diketahui, namun setiap menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup manusia semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya atau, paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika ia pun pasti mengalami nasib yang sama.

Manusia menyaksikan bagaimana kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan. Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan, apalagi bagi mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja.

Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan menghindari sedapat mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali, demi mewujudkan eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir dari segala sesuatu? Kilah mereka.

Sebenarnya akal dan perasaan manusia pada umumnya enggan menjadikan kehidupan atau eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai kepunahan tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara untuk menunjukkan eksistensinya. Misalnya, dengan menyediakan kuburan, atau tempat-tenapat tersebut dikunjunginya dari saat ke saat sebagai manifestasi dari keyakinannya bahwa yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada.

Hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal amat berakar pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut oleh umat manusia dewasa ini. Sedemikian berakar hal tersebut sehingga orang-orang Mesir Kuno misalnya, meyakini benar

keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan mayat-mayat mereka ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Konon Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297), “Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”

Demikian gagasan keabadian hidup manusia hadir bersama manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Kalau keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar mereka untuk menciptakan teknik pengawetan jenazah dan pembangunan piramid, maka dalam pandangan pemikir-pemikir modern, keabadian manusia dibuktikan oleh karya-karya besar mereka.

Abdul Karim Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah (I:214) mengutip tulisan Goethe (1749-1833 M) yang menyatakan:

“Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya, maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul beban jiwa.”

Demikian filosof Jerman itu menjadikan kehidupan duniawi ini sebagai arena untuk bekerja keras, dan kematian merupakan pintu gerbang menuju kehidupan baru guna merasakan ketenangan dan keterbebasan dari segala macam beban.

PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN

Agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad Saw., misalnya bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian).”

Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.

Dari Al-Quran ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Yang pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna).

“Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna” (QS Al-’Ankabut [29]: 64).

Dijelaskan pula bahwa,

“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa’ 14]: 77)

Di lain ayat dinyatakan,

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa jika dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berjuang di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal tetap di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan duniawi dibandingkan dengan nilai kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (QS At-Tawbah [9]: 38).

Betapa kehidupan ukhrawi itu tidak sempurna, sedang di sanalah diperoleh keadilan sejati yang menjadi dambaan setiap manusia, dan di sanalah diperoleh kenikmatan hidup yang tiada taranya.

Satu-satunya jalan untuk mendapatkan kenikmatan dan kesempurnaan itu, adalah kematian, karena menurut Raghib Al-Isfahani:

“Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana dirtwayatkan bahwa, “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negen ke negen (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat.” (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)

Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur. Anak ayam yang terkurung dalam telur, tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian juga manusia, mereka tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati).

Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada kematian, antara lain al-wafat (wafat), imsak (menahan).

Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya, “Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu.” Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai salah satu isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang lebih mulia dan baik dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta imsak yang berarti menahan (di sisi-Nya)?

Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri seberang.

Kematian juga dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia. Dalam surat Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan kepada orang-orang kafir.

“Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya.”

Nikmat yang diakibatkan oleh kematian, bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti, tetapi juga dalam kehidupan duniawi, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi makhluk manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, “Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]: 1-2).

Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.

KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA

Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia, dalam arti bahwa manusia yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.

“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu

hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali-’Imran [3]: 169).

“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa ‘mereka itu telah mati,’ sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS Al-Baqarah [2]: 154).

Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara’ bin Azib, bahwa Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, “Sesungguhnya untuk dia (Ibrahim) ada seseorang yang menyusukannya di surga.”

Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya, beliau “bertanya” kepada mereka yang telah tewas itu, “Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai Abu Jahl bin Hisyam, (seterusnya beliau menyebutkan nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku.” “Rasul. Mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah tewas?” Tanya para sahabat. Rasul menjawab: “Ma antum hi asma’ mimma aqul minhum, walakinnahum la yastathi’una an yujibuni (Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku).” Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran dan kehidupan baru.

MENGAPA TAKUT MATI?

Di atas telah dikemukakan beberapa faktor yang menyebabkan seseorang merasa cemas dan takut terhadap kematian. Di sini akan dicoba untuk melihat lebih jauh betapa sebagian dari faktor-faktor tersebut pada hakikatnya bukan pada tempatnya.

Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. “Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia” (QS Al-Dhuha [93]: 4).

Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad.

Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti “duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras.” Banyak ulama tafsir

menunjuk ayat Wa nazi’at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS An-Nazi’at [79]: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan.3

Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai “dicabut dengan lemah lembut,” sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. Surat Al-Zumar (39): 42 yang dikutip sebelum ini mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah Saw. untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah:

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami

(menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak).”

Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut:

“Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi.”

Kalau demikian. mati itu sendiri “lezat dan nikmat,” bukankah tidur itu demikian? Tetapi tentu saja ada

faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan kematian lebih lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya mimpi-mimpi buruk yang dialami manusia. Faktor-faktor ekstern tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan bahwa, “Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan orang kafir yang juga diperlihatkannya kepadanya apa yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya daripada bertemu dengan Tuhan.”

Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa

Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta

bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu.’”

Turunnya malaikat tersebut menurut banyak pakar tafsir adalah ketika seseorang yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi kematian. Ucapan malaikat, “Janganlah kamu merasa takut” adalah untuk menenangkan mereka menghadapi maut dan sesudah maut, sedang “jangan bersedih” adalah untuk menghilangkan kesedihan mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan seperti anak, istri, harta, atau hutang.

Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan:

“Kalau sekuanya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’ (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)” (QS Al-Anfal [8]: 50)

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS Al-An’am [6]:93).

Di sisi lain, manusia dapat “menghibur” dirinya dalam menghadapi kematian dengan jalan selalu mengingat dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak seorang pun akan luput darinya, karena “kematian adalah risiko hidup.” Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, “Setiap jiwa akan merasakan kematian?” (QS Ali ‘Imran [3]: 183)

“Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS Al-Anbiya’ [21]: 34)

Keyakinan akan kehadiran maut bagi setiap jiwa dapat membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti diketahui, “semakin banyak yang terlibat dalam kegembiraan, semakin besar pengaruh kegembiraan itu pada jiwa; sebaliknya, semakin banyak yang tertimpa atau terlibat musibah, semakin ringan musibah itu dipikul.”

Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantar seorang mukmin agar tidak merasa khawatir menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.

ciri orang mandul

Selama bertahun-tahun, Scott Read dengan sengaja menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi ketika la menikah dalam tahun 1982 dan keduanya, ia dan istrinya, Karen, menginginkan kehadiran seorang anak, ia menghadapi kenyataan menyakitkan yang sungguh di luar dugaannya.

"Kami ingin punya anak, kami juga telah mencoba dan mencoba lagi tetapi belum berhasil,"ujar Scott, seorang eksekutif hotel berusia 36 tahun di San Francisco dan ayah angkat seorang anak perempuan berusia enam tahun. "Itu sangat mengesalkan. Di kepala saya terbayang kenangan tentang beberapa temannya semasa SMU yang sehabis kencan satu kali saja dengan seorang gadis, wuuss, gadis itu langsung hamil. Namun kini dua insan yang telah siap mempunyai anak seperti kami justru tidak pernah mendapatkannya."

Cerita tentang Scott dan Karen seperti di atas dialami oleh sekitar 10 hingga 15 persen pasangan Amerika yang diduga atau dipastikan mandul. Selama berbulan-bulan dan kemudian bertahun-tahun pasangan seperti ini akhirnya kehilangan harapan dan hanyut dalam kekecewaan. Hubungan seks menjadi seperti kewajiban, dan setelah setiap bulan pembuahan tidak kunjung terjadi, mereka semakin merasa bahwa puncak bukit sudah lama mereka lewati.

"Bagi banyak orang, kemandulan sama dengan bencana. Salah satu aspek utama yang membuat seorang pria merasa muda adalah kemampuannya membuahi. Bagi seorang pria, tidak ada yang lebih meremukkan perasaan selain menghadapi kenyataan bahwa la tidak mampu membuahi seorang wanita. Secara psikologis, ini dapat menjatuhkan harga dirinya dan membuatnya merasa seperti orang yang sudah tua dan jompo," kata Reed C. Moskowitz, M.D., pendiri dan direktur medis di Stress Disorder Medical Services di New York University Medical Center di New York City dan pengarang Your Healing Mind.
Apa yang Tidak Beres?

Besar sekali kemungkinan bahwa anda pernah belajar tentang proses terjadinya bayi dalam pelajaran biologi atau pendidikan seks di sekolah. anda mungkin ingat guru anda dengan nada datar menerangkan bahwa secara normal seorang pria memancarkan jutaan sperma ke dalam vagina seorang wanita ketika sedang bersetubuh dan sperma-sperma tersebut berebutan masuk ke dalam saluran telur (tuba fallopi).

Di sana, apabila anda berhubungan seks tepat pada satu atau dua hari dalam sebulan ketika telur pasangan anda dilepaskan dari ovarium dan berjalan di salah satu saluran telur, sperma dan telur itu akan bertemu. Apabila salah satu sperma berhasil menembus dinding telur, pembuahan terjadi, dan kehamilan dimulai. Apabila kondisinya ideal dan anda serta pasangan anda tidak menggunakan alat kontrasepsi, maka peluang untuk terjadinya kehamilan adalah satu banding lima pada setiap bulan.

Akan tetapi barangkali guru anda tidak bercerita bahwa keadaan tidak selalu demikian. Kemandulan atau infertilitas biasanya didiagnosis setelah sepasang pria dan wanita telah mencoba menghasilkan pembuahan tanpa hasil selama 12 bulan atau lebih. Kemandulan dapat terjadi bahkan meskipun anda pernah mempunyai anak. Kira-kira 40 hingga 50 persen dari masa pengamatan itu, dokter mungkin mencari tahu dahulu bahwa si wanita mungkin mempunyai masalah dalam peralatan reproduksinya. Sedangkan selama 40 persen sisanya, mereka mulai menduga bahwa yang bermasalah adalah pihak pria.

Kadang-kadang baik pihak pria maupun pihak wanita sama-sama mempunyai kesulitan yang mempengaruhi proses kehamilan. Akibatnya dokter tidak dapat menentukan penyebab anda dan pasangan anda tidak dapat mempunyai anak.

Pada umumnya, apabila pihak pria yang bermasalah, penyebabnya adalah entah karena hitungan sperma (sperm count) rendah atau karena benih-benih tersebut sangat lamban, dalam arti mereka memerlukan waktu lama ketika berenang untuk bertemu dengan telur di saluran telur.

Sebagian pria, seperti Scott Read, memiliki kedua masalah itu sekaligus.
"Pria dapat memiliki hitungan sperma rendah karena beberapa alasan," kata Donald I. Galen, M.D., direktur di In Vitro Fertilization and Reproduction Medical Division di San Ramon Regional Medical Center di San Ramon, California. "Merokok, penyalahgunaan alkohol, obat bius, terkena bahan kimia dan radiasi, penyakit sewaktu kanak-kanak seperti campak dan trauma terhadap organ seksual dapat mengurangi hitungan sperma pada pria."

Pembesaran vena dalam skrotum (kantung zakar) juga dapat menurunkan hitungan sperma, kata Fred Licciardi, M.D., profesor obstetri dan ginekologi di New York University School of Medicine di New York City. Testis memerlukan suhu kira-kira dua derajat lebih rendah daripada temperatur tubuh yang lain agar dapat memproduksi sperma. Akan tetapi varikokel menyebabkan temperatur dalam testis naik dan membunuh sperma.

Penyebab lain kemandulan pada pria di antaranya adalah tersumbatnya vas deferens (saluran yang mengalirkan sperma dari testis ke penis), kanker testis, infeksi, trauma, dan antibodi yang melekatkan diri pada sperma sehingga sulit bergerak dan karena itu rentan terhadap penghancuran oleh sel-sel darah putih. Antibodi bisa muncul akibat infeksi atau trauma pada testis.

Ciri-Ciri Wanita Sholehah

Ciri-ciri Wanita Sholehah

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahuwata’ala

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas:

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga

Implementasi Sistem Poliklinik (peninjauan setelah implementasi)

Dari kasus sebelumnya, inilah tahapan terakhir dari implementasi sistem.
Tujuan pengembangan sistem baru yang berkualitas adalah untuk menghasilkan sistem yang tidak melampaui anggaran, tepat waktu dan memenuhi keperluan pemakai. Proses untuk menganalisis apa yang berjalan dalam proyek yang berhasil maupun tidak berhasil disebut peninjauan pasca implementasi(post implementasi review).
Peninjauan pasca implementasi adalah pencarian terorganisir untuk menemukan cara meningkatkan efesiensi dan efektivitas sistem baru, dan untuk memberikan informasi yang akan membantu dalam pengembangan sistem mendatang. Peninjauan pasca implementasi dilakukan oleh tim yang terdiri dari wakil pemakai, auditor internal, professional sistem, dan disertakan pula konsultan eksternal atau auditor independen untk meingkatkan obyektifitas dan mengurangi kepentingan politik yang terjadi diantara kelompok-kelompok internal.

Empat cakupan area peninjauan pasca implementasi:
1. Faktor-faktor sistem
2. Komponen rancangan sistem
3. Keakuratan estimasi
4. Tingkat dukungan

E1. Faktor-Faktor Sistem

Mencakup:


a. Faktor kelayakan teknis, ekonomis, legal, operasional, dan jadwal(TELOS).
Dari kasus diatas, sistem perangkat lunak pengelolaan informasi data pelatihan dan pengembangan SDM untuk dosen dan staff universitas A sudah memenuhi kelayakan TELOS suatu sistem. Yaitu sistem tersebut diterapkan dengan teknologi baru( C# dan SQL), biaya murah, legal, kemampuan personel khususnya IT yang memadai dan sistem tersebut berlaku pada waktu yang sudah ditentukan.


b. Faktor strategis, produktivitas, diferensiasi, dan manajemen (PDM).
Dari kasus diatas, sistem perangkat lunak pengelolaan informasi data pelatihan dan pengembangan SDM untuk dosen dan staff universitas A sudah memenuhi faktor strategi PDM suatu sistem. Yaitu sistem tenaga kerja yang diperlukan tidak terlalu banyak karena hamper semua telah dikerjakan sistem, kualitas sistem lebih baik dari sistemm sebelumnya, dan sistem menyediakan informasi yang cepat serta akurat mengenai data pelatihan staff dan dosen.


c. Faktor rancangan kemampuan pemeliharaan, pendayagunaan, pendayagunaan kembali, realibilitas, dan kemampuan perluasan(MURRE).
Dari kasus diatas, sistem perangkat lunak pengelolaan informasi data pelatihan dan pengembangan SDM untuk dosen dan staff universitas A sudah memenuhi faktor MURRE suatu sistem. Yaitu dari pihak universitas telah disiapkan personel untuk memelihara dan mendayagunakan sistem ini sehingga sistem dapat bekerja dengan baik.

E2. Komponen Rancangan Sistem


Mencakup:


a. Output
Berisi data staff dan dosen yang telah mengisi form aplikasi sehingga dapat diketahui siapa saja staff dan dosen yang perlu diberi pelatihan pengembangan SDM.
b. Input
Berisi aplikasi form dari mulai login, cek tipe user, trainer data input, registrasi, absensi dan recommendation.
c. Proses
Berisi pengolahan data dari inputan trainer data input, registrasi, absensi dan recommendation.
d. Database
Berisi data output yang disimpan pada file database SQL.
e. Kendali
Berisi pengendalian sistem agar sistem dapat berjalan dengan baik.
f. Platform teknologi
Berisi teknologi yang digunakan antara lain program C# dan SQL serta spesifikasi komputer yang mumpuni.


E3. Keakuratan Estimasi


a. Waktu
Menggunakan sistem perangkat lunak pengelolaan informasi data pelatihan dan pengembangan SDM untuk dosen dan staff universitas A, waktu yang dibutuhkan lebih cepat tentunya karena user hanya perlu mengisi form aplikasi serta tepat waktu dalam menerima data pengolahannya.
b. Biaya
Biaya yang dikeluarkan cukup murah karena hanya perlu memelihara sistem da personel sehingga sistem perangkat lunak pengelolaan informasi data pelatihan dan pengembangan SDM untuk dosen dan staff universitas dapat bekerja dengan baik.
c. Keuntungan
Menggunakan sistem ini memberikan banyak keuntungan, antara lain:
• Perangkat lunak yang dibuat membantu dalam melakukan pengerjaan pencatatan data pelatihan.
• Penggunaan fitur rekomendasi dapat membantu staff dalam menentukan peserta pelatihan yang akan diregistrasi.
• Report – report yang dihasilkan dapat dengan mudah diprint.

E4. Tingkat Dukungan


Mencakup:
a. Sumber daya yang tersedia
Sumber daya untuk sistem ini tersedia seperti sumber daya manusia.
b. Manajemen puncak
Manajemen puncak dalam hal ini rektorat Universitas A sangat mendukung sistem perangkat lunak pelatihan terhadap staff dan dosen.
c. Pelatihan
Pelatihan untuk sistem ini didukung oleh pihak Universitas A seperti dalam memelihara sistem disediakan dosen tertentu dan mahasiswa yang mempunyai kemampuan IT terbaik.